Kamis, 23 Februari 2012

JAMBORE PTK PAUDNI 2012


Program pemberian penghargaan Jambore PTK PAUDNI yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2007, kini bertajuk “Apresiasi bagi PTK PAUDNI Berprestasi”. Puncak kegiatan tingkat nasional direncanakan berlangsung pada tanggal 8 sampai dengan 13 Juli 2012 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Terdapat 12 jenis lomba perorangan dan 2 jenis lomba kelompok. Kegiatan ini diselenggarakan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional.
Kegiatan apresiasi bagi PTK PAUDNI berprestasi ini merupakan ajang untuk menggelar karya terbaik yang dikompetisikan mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga tingkat nasiona, sekaligus untuk membangun semangat persahabatan, persatuan dab kesatuan bagi PTK PAUDNI yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Kasubdit PTK Kursus dan Pelatihan, Abubakar Umar, M.Pd., kegiatan Apresiasi bagi PTK PAUDNI Berprestasi ini bertujuan (a) memberikan penghargaan terhadap PTK PAUDNI yang dinilai memiliki prestasi yang inovatif dalam bidang program PAUDNI, (b) meningkatkan mutu pembinaan PTK PAUDNI melalui pengembangan kreativitas dan inovatif melalui lomba, olahraga dan seni, (c) menumbuhkan motivasi kepada PTK PAUDNI agar senantiasa meningkatkan mutu dalam melaksanakan tugasnya, (d) menyebarluaskan hasil karya PTK PAUDNI sebagai acuan untuk meningkatkan mutu PTK PAUDNI dan layanan program PAUDNI, dan (e) memberikan umpan balilk dalam rangka meningkatkan mutu pembinaan dan pengembangan karier PTK PAUDNI.
Adapun jenis lomba perorangan adalah:
  1. Pendidik PAUD (TPA/KB/TK/SPS), dengan tema pendekatan pembelajaran multi talenta untuk anak usia dini,
  2. Pengelola PAUD (TPA/KB/TK/SPS), dengan tema pengelolaan PAUD (TPA/KB/TK/SPS) terpadu
  3. Instruktur Tata Rias Rambut, dengan tema teknik pembelajaran penataan sanggul masing-masing daerah,
  4. Instruktur Hantaran Pengantin, dengan tema teknik pembelajaran pembuatan hantaran daerah yang dimodifikasi untuk pengantin,
  5. Instruktur Kursus Tata Busana, dengan tema teknik pembelajaran menjahit busana nasional wanita dengan sentuhan daerah,
  6. Instruktur Kursus Seni Tari, dengan tema teknik pembelajaran seni tari tradisional,
  7. Instruktur Kursus Keterampilan Merangkai Bunga, dengan tema teknik merangkai bunga dan desain floral,
  8. Instruktur Kursus Komputer, dengan tema pembuatan media pembelajaran animasi pendidikan karakter bagi anak usia dini,
  9. Pengelola Kursus dan Pelatihan, dengan tema inovasi pemasaran lembaga kursus dan pelatihan tentang program dan lulusan kursus,
  10. Pamong belajar P2PNFI/BPPNFI/BPKB/SKB, dengan tema pembuatan media pembelajaran interaktif bagi anak usia dini,
  11. Penilik dengan tema metode pelaksanaan pembimbingan terhadap PTK PAUDNI dalam penyelenggaraan program PAUDNI
  12. Pengelola PKBM dengan tema strategi pengembangan jejaring kerja untuk pengembangan kemandirian pengelolaan PKBM.
Adapun dua jenis lomba kelompok adalah (1) paduan suara, dan (2) senam sajojo. Lomba kelompok diikuti oleh 12 peserta lomba perorangan.
Tahun ini nominal hadiah untuk juara perorangan dan kelompok mengalami peningkatan yang signifikan. Juara pertama tingkat nasional akan memperoleh hadiah sebesar Rp. 20 juta, juara kedua sebesar Rp. 15 juta, juara ketiga sebesar Rp. 10 juta, juara harapan I sebesar Rp. 8 juta dan juara harapan II mendapatkan hadiah sebesar Rp. 7 juta.
Anda PTK PAUDNI dan ingin karyanya untuk dikompetisikan? Silahkan menghubungi Dinas Pendidikan provinsi dan atau kabupaten/kota setempat.

Rabu, 25 Januari 2012

PAUD Strarting Pendidikan Modern

Pendidikan anak Usia Dini (PAUD) adalah gagasan yang tepat untuk member pengenalan pada anak usia dini dalam proses belajar mengajar. Pengenalan ini cukup untuk memberikan starting point dalam dunia pendidikan yang lebih maju. Tapi dalam implementatsi dilapangan perlu penyesuaian alam dan lingkungan sekitar disamping materi baku yang harus disampaikan. Perbaikan sistem pendidikan terus digulirkan, hal ini sesuai dengan komitmen para anggota dewan. Seperti apa yang disampaikan  Ketua KomisiDPRD Jatim Kartika Hidayati ketika diwawancarai reporter, mengatakan dewan terus memperhatikan kualitas hidup manusia. Tiap tiap elemen yang ada harus serius dan dikerjakan sesuai dengan program kegiatan. Katanya Dirinya mencontohkan program pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) perlu distandarisasi, artinya ditata sesuai dengan regulasi yang berlaku. Paparnya
Politisi asal PKB  ini menambahkan bahwa perbaikan kualitas pendidikan terus diupayakan oleh pemerintah. Tak hanya pada pendidikan dasar hingga menengah, pendidikan anak usia dini (PAUD) juga  jadi perhatian. Sebagai langkah awal, pemerintah berencana menstandarisasikan layanan PAUD di seluruh daerah. Hal ini sesuai dengan  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini yang saat ini dalam proses revisi.
"Nantinya semua penyelenggaraan PAUD yang ada tentu harus sesuai dengan ketentuan Permendiknas tersebut," katanya,
Apabila telah diterbitkan, penyelenggara PAUD harus bisa memenuhi standar PAUD yang telah diatur dalam Permen, yakni standarisasi tenaga pendidikan seperti kualifikasi maupun sarana dan prasarananya.
Seperti diketahui, masih banyak layanan PAUD yang ada diselenggarakan di tempat seadanya dan bahkan dilaksanakan dipelataran rumah warga ataupun dalam masjid. Dengan adanya standar yang nantinya ditetapkan, tentunya penyelenggara PAUD harus memenuhi kualifikasi tersebut. Termasuk pula untuk kualifikasi pendidiknya,
Misalnya, harus berijizah minimal sarjana (S-1). Sedangkan untuk standarisasi sarana prasarana meliputi keberadaan ruang kelas yang  harus luas dan memiliki fentilasi.

Sabtu, 26 November 2011

HARUSKAH ANAK USIA DINI (KB-TK) BISA MEMBACA & MENULIS

Keberhasilan pendidikan anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. Usia dini merupakan "usia emas" bagi seseorang, artinya bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya.
Kesadaran akan pentingnya PAUD di Negara maju sejak dahulu sudah cukup tinggi sedangkan di Indonesia baru berlangsung kurang lebih 10 tahun terakhir.
Menurut Martin Luther tujuan utama sekolah adalah mengajarkan agama dan keluarga yang merupakan institusi terpenting dalam pendidikan anak. Pemikiran Martin Luther ini sejalan dengan tujuan madrasah (sekolah Islam) yaitu pendidikan agama Islam, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian integral dari agama Islam. Dengan demikian pendidikan akan menghasilkan ulul-albaab (QS. 3 : 190 - 191), yaitu penguasaan iptek yang dapat digunakan dalam kehidupan dengan ahlak mulia, berdampak rahmatan lil alaminn, yang dijanjikan Allah akan ditingkatkan derajatnya (QS. 58 : 11)

POLA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI ( PAUD )
Pendidikan usia dini merupakan pendidikan yang diberikan kepada anak sejak usia 0-6 tahun. Sedangkan pemberian rangsangan dapat dimulai sejak anak dalam kandungan, misalnya dengan bercakap-cakap, mendengarkan suara-suara musik atau alunan ayat suci Al Qur’an. Kontak anak dengan keluarga dan lingkungannya dapat menjadi stimuli utama, terlebih lagi anak menghabiskan waktu terbanyak dengan keluarga.
Usia dini merupakan usia emas untuk menyerap berbagai informasi. Namun orangtua dan tenaga pendidik harus memberikan materi yang dekat dengan kehidupan dan lingkungan anak yang terrefleksi dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.
Pertumbuhan dan perkembangan Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) saat ini sangat menggembirakan. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya lembaga pendidikan tersebut, baik di pedesaan maupun perkotaan.
Menjamurnya lembaga pendidikan KB dan TK saat ini secara otomatis menimbulkan persaingan yang semakin ketat. Disini masing-masing lembaga penyelenggara pendidikan KB dan TK selalu berusaha menonjolkan lembaganya dengan menawarkan program-program ekslusif seperti materi bahasa asing (Inggris), drum band, komputer, membaca, menulis maupun menghitung.
Menurut Frobel yang nota bene sebagai bapak TK sedunia, menrumuskan bahwa tujuan tujuan umum pendidikan TK adalah mengembangkan bekerja sendiri pada anak melalui permainan. Karena, dalam pandangannya anak sampai usia tujuh tahun pada dasarnya kemampuan untuk bekerja sendiri pada anak muncul dalam dorongan untuk bermain, menyanyi dan bekerja (pekerjaan) tangan.
Dalam proses pendidikannya, Frobel lebih dominan memakai daya fantasi anak. Dalam hal ini prinsip yang dipakai adalah urutan berjenjang, dimulai dari yang mudah kemudian berlanjut pada yang lebih sukar.
Adapun Maria Montesorri dalam menyelenggarakan pendidikan TK berpegang pada prinsip “mendidik dalam kebebasan untuk kebebasan”. Prinsip demikian meniscayakan pada satu keyakinan bahwa anak mempunyai potensi untuk mendidik diri sendiri. Dengan demikian, dalam penyelenggaraannya tidak ada materi yang ditentukan oleh guru tetapi yang ada adalah pengasuh sebagai pendamping anak dalam proses pertumbuhan diri secara spontan dengan menggunakan alat permainan.

Realita di lapangan
Apabila kita mau melihat kondisi dilapangan secara langsung, kita akan menemukan ada sebagian Taman Kanak-Kanak (TK) yang telah mengajarkan baca, tulis dan hitung (calistung).
Berdasarkan pengamatan di berbagai media masa dan elektronik, selain diajarkan bernyanyi dan keterampilan untuk melatih motorik, setiap harinya murid-murid TK juga mendapat pendidikan mengenal huruf-huruf alfabet dan angka.
Selama tiga jam bersekolah dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi, anak-anak dilatih untuk dapat menulis dan membaca hingga merangkai kata. Begitu pula dengan angka, selain menuliskan untuk pengenalan angka, anak-anak juga dilatih pertambahan dan pengurangan sederhana
Berdasarkan pengamatan dilapangan, ada beragam pendapat tentang pembelajaran calistung pada anak TK. Ragam pendapat itu pada dasarnya dapat terangkum dalam 3 pendapat yang berbeda yaitu:
1. Mengharuskan anak TK bias baca tulis. Hal ini dilatar belakangi oleh keinginan untuk bias masuk SD dengan mudah karena pada test masuk banyak sekolah yang mensyaratkan calon siswanya untuk bias baca tulis, atau sekedar prestise bagi guru / orang tua murid
2. Mengharuskan anak TK bias membaca dan menulis berarti memaksanakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya diajarkan di SD
3. Mendukung pembelajaran baca tulis dengan penyajian yang menyesuaikan cara anak usia dini belajar (bermain sambil belajar)
Berdasarkan fenomena di atas pada dasarnya dapatlah kita ambil benang merah. Sesunguhnya pembelajaran “calistung” (baca-tulis-hitung) dapat disampaikan sejak usia dini karena pembelajaran ini bisa membaur dengan kegiatan lainnya yang dirancang dalam kurikulum TK tanpa harus membuat anak-anak terbebani.
Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar. Dari gambar-gambar itu bisa kita tambah poster kata-kata dengan ukuran yang cukup besar dengan warna yang mencolok melalui ekplorasi bahasa dengan bermain kata, suku kata dan lain sebagainya.
Kesuksesan anak dalam belajar calistung sangat ditentukan oleh lingkungan, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah. Calistung harus diajarkan pada anak usia dini sesuai dengan bagaimana anak usia dini belajar. Jika calistung diajarkan sangat formal seperti halnya orang dewasa, besar kemungkinan akan berakibat fatal. Anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan.
Sekolah yang baik harus memiliki tenaga pendidik yang memahami benar ilmu psikologi pendidikan anak. Dalam hal ini ketika belajar calistung para pendidik harus dapat mengembangkan kemampuan belajar calistung secara menyenangkan dalam arti kiat-kiat khusus terus digali dari berbagai referensi.
Jadi persoalan baca tulis di sekolah, bukan pelajarannya harus dipersoalkan tetapi cara menyajikannya.

Jumat, 05 Agustus 2011

Kiat Aman Puasa Pada Anak


Memasuki bulan ramadhan, anak belum akil baliq tidak termasuk umat yang diwajibkan berpuasa. Tetapi pada kenyataannya banyak anak pra akil baliq sudah berpuasa "penuh" layaknya orang dewasa. Periode akil baliq biasanya terjadi saat anak sudah mulai masa pubertas atau sekitar usia 12 tahun. Anak perempuan akan mendapat menstruasi dan payudara mulai berkembang.  Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, bentuk fisik berubah secara cepat, dan sudah mengalami peristiwa "mimpi basah".  Sejak saat inilah anak diwajibkan untuk berpuasa.

Banyak orang tua beralasan dalam mendidik beribadah khususnya puasa harus dilakukan secara dini dan bertahap. Tak jarang puasa sudah dikenalkan pada anak sejak usia 6 atau 7 tahun meskipun baru puasa setengah hari. Menurut perspektif agama Islam bila  ibadah termasuk yang tidak wajib boleh dilakukan asalkan mampu dan tidak dipaksakan. Bila ditinjau dalam bidang kesehatan tampaknya puasa juga mungkin bisa dilakukan oleh anak usia pra akil baliq tetapi harus cermat dipertimbangkan kondisi dan keterbatasan kemampuan anak.

Kondisi psikobiologis anak memang berbeda dengan dewasa dalam melakukan ibadah puasa. Meskipun belum banyak dilakukan penelitian dilakukan terhadap pengaruh berpuasa pada anak dikaitkan dengan aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak. Sejauh ini belum pernah dilaporkan seorang anak yang mengalami gangguan yang berat akibat puasa.

FAKTOR PSIKOBIOLOGIS
Aspek kesehatan secara psikobiologis anak usia sebelum akil baliq dapat ditinjau dari aspek tumbuh kembang anak dan fungsi biologis. Aspek perkembangan meliputi perkembangan psikologis seperti perkembangan emosional, perkembangan moral dan perilaku lainnya. Fungsi biologis meliputi aspek fisiologis tubuh, metabolisme tubuh, kemampuan fungsi organ dan sistem tubuh.
Dari aspek perkembangan khususnya kecerdasan dalam periode ini anak mulai banyak melihat dan bertanya. Fantasinya berkurang karena melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin berinisiatif dan bertanggung jawab. Perkembangan rohani pemikiran tentang Tuhan sudah mulai timbul. Anak sudah mulai dapat memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya.


Puasa pada anak mungkin dapat dilakukan tetapi harus cermat memperhatikan kondisi normal psikobiologisnya. Sedangkan kondisi psikobiologis setiap anak berbeda dan tidak dapat disamakan. Bila kondisi itu tidak diperhatikan maka puasa merupakan beban bagi mental dan fisik anak. Selanjutnya akan berakibat mengganggu tumbuh kembang anak. Tetapi bila puasa dilakukan dengan mempertimbangkan dengan cermat kondisi anak maka dapat merupakan pendidikan terbaik bagi perkembangan moral dan emosi anak.

TUBAN Portal & News | Kota Tuban Dot Com

Infotainment

detikcom